Postingan

Berbagi edukasi kopi dan empati melalui Coffee Shop (Klinik Kopi)

Gambar
Beberapa hari lalu saya pergi ke Jogja. Salah satu hal yang membuat saya ingin mengunjungi Jogja adalah untuk mengunjungi salah satu Coffee shop yang menjadi daya tarik saya sejak lama yaitu Klinik Kopi. Pada mulanya Klinik Kopi men-follow saya di instagram, mngkin itu salah satu strategi marketing dengan calon customernya. Karena saya melihat sesuatu yang "berbeda" pada coffee shop ini, maka saya memutuskan untuk men-follow back dan menobservasinya secara digital. Benar saja, ternyata coffee shop ini memiliki daya tarik sendiri. Apabila coffee shop kebanyakan hanya menjual productnya sendiri yaitu kopi dan interior coffee shop yang instagramable, klinik kopi menyajikan hal yang lebih dari itu. Klinik kopi menyajikan edukasi kopi dan empati melalui postingan perjalanan mereka dalam mencari biji kopi.  coffee bar klinik kopi Karena daya tarik yang dimiliki coffee shop ini membuat Riri Riza dan Mira Lesmana selaku sutradara dan produser film AADC 2 memasukkan cof...

Ketersesatan dalam sebuah idealisme

Gambar
Terkadang sebuah idealisme membawa kita ke dalam suatu tempat tanpa batas yang bernama mimpi. Mimpi dalam hal ini bukan seperti bunga tidur yang kita alami seperti biasanya. Mimpi dalam konteks ini adalah harapan atau cita-cita kita. Ketika kita kecil kita sering diajak untuk berhayal dan mencari mimpi kita. Seiring berjalannya usia seakan hal tersebut terdengar sangat klise apabila kita katakan “ingin mengejar mimpi”.   Hal ini akan terdengar semakin konyol dan semakin tidak mungkin dicapai apabila saya mengatakan bahwa mimpi saya adalah untuk “membuat Indonesia lebih baik lagi”. Jiwa nasionalisme seakan menjadi bahan guyonan, dan pandangan orang seakan melihat diri saya tidak dapat berpikir secara rasional dan realistis. Ketika masing-masing orang berjuang mati-matian untuk mencari cara bagaimana untuk menghidupi dirinya sendiri, saya malah berjuang memikirkan bagaimana caranya menciptakan perubahan untuk negara saya. Sampai suatu ketika lingkungan dan mayorit...

Aspirasi Kaum Toleran untuk Indonesia yang Lebih Baik

I ssue sosial terkait dengan toleransi beragama dan suku sedang hangat untuk menjadi topik perbincangan publik. Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia ternyata menjadi pisau bermata dua. Pemutarbalikkan opini publik yang mengatasnamakan kebenaran kerap kali menjadi menjadi pemicu pemecah belah bangsa . Selain itu munculnya kaum-kaum provokatif membuat hal ini menjadi kian merajalela. Faktor ini juga didukung oleh sikap apatis dan diamnya kaum toleran. Monopoli kebenaran oleh kaum intoleran membuat seakan ruang diskusi publik ditutup rapat-rapat oleh kebenaran semu. Kaum intoleran menggunakan oknum-oknum yang provokatif dan pengerahan masa secara besar-besaran untuk memperlihatkan kamuflase kebenaran yang telah mereka buat. Selain itu karakter bangsa Indonesia yang lebih cepat merespon berita negatif juga dimanfaatkan kaum ini untuk membuat suatu propaganda. Kaum intoleran semakin berani untuk berulah di negeri ini karena kaum toleran lebih memilih untuk bungkam,...

Aksara Rasa Syukur

Gambar
Karya ini terinspirasi dari kegiatan "One Month Socio Project" yang diselenggarakan oleh " Lentera Mimpi." Untuk detail aktivitas dapat dilihat pada blog lentera mimpi: www.lenteramimpiproject.blogspot.co.id "Art is about sharing passion each other" Aksara Rasa Syukur Potensi diri yang dulu dibungkam Kini telah bebas, menghirup udara segarnya Terima kasih atas seni dan kreativitas Yang telah membuka tawa mereka. Mengajarkan tentang berkarya Mengajarkan kami untuk membagikan Anugerah-Nya Mengizinkan mereka untuk mengenal diri mereka sendiri Replika haru tercipta Perspektif baru berkunjung dan menetap Simphoni yang menggetarkan jiwa Tawa mereka adalah apresiasi bagi kami Terima kasih semesta Telah memberikan kesempatan Untuk kami Melaksanakan sabdamu (Isella Siregar, Oktober 2016)

Berfokus pada Cahaya

Berfokus pada Cahaya Rasa ingin tau membuatku ingin memasuki satu lorong Intuisi mengatakan terdapat cahaya yang berkilau diakhirnya Jauh lebih berkilau dari yang lainnya “JANGAN!“, kata mereka Tetapi intuisiku seakan menguasai sel darahku Indera pendengaranku seakan ditulikan Suara mayoritas diredam Lalu Intuisi mendestruksi logika dan menjeratku ke lorong itu Entah terjebak ataukah  semesta yang membawaku ke titik ini Terowongannya sangat panjang, gelap, dingin Bermil-mil berjalan namun tak ada setitik cahaya Tersesat, gelap dan mencekam Ku pikir aku tak akan pernah keluar Tapi semesta memberikan senyumannya Lalu ku teruskan perjalanan Tak lama kilau cahaya kecil, memancarkan pesonanya kepadaku Indah, damai dan menawan Sedikit lagi... Sedikit lagi sampai Kilauan itupun menyadarkanku  Karena selama ini aku hanya terfokus pada kegelapan Bukan berfokus pada cahaya. Isella Siregar, September (2...

Destruksi

Destruksi Terkapar dilintasan waktu dan tersesat di entah berantah Menampilkan cerah yang tak sejati Meredam dan tenggelam Rahasia yang terkubur pada lapisan inti bumi Membiru dan terbelenggu Hiruk-pikuknya polusi kata Resah, mencengkram, tanpa solusi “seperti mereka”, katanya Seakan homo sapien adalah makluk pabrikan Menyamaratakan segala sesuatu yang jelas berbeda Perpektif dijadikan satu arah Mimpi dan harapan yang dibungkam oleh rasionalitas semu Hutan belantara kehidupan Memaksa manusia untuk menggunakan sistem auto pilot Berjalan secara otomatis Tanpa hasrat, tanpa rasa, tanpa resiko Karena citra publik lebih berharga Dari mengenal diri sendiri 24 Agustus 2016 Isella Siregar

Kolaborasi antara Misteri Kehidupan dan Misteri ilahi

Tekanan dalam hidup memaksa kita mengambil keputusan berupa solusi untuk keluar dari masalah. Tapi bagaimana bila masalah tersebut berada dalam lingkup eksternal yang terkadang kita sendiri tidak bisa mengendalikannnya? Terkadang kita hanya bisa berserah atau mengambil kontrol dari diri kita sendiri. Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa “mungkin itu bukan jalan anda, atau Tuhan sudah mengatur jalan anda, atau semua akan indah pada waktunya”. Tapi secara logika kita pasti akan bertanya-tanya, “kalau begitu jalan saya seperti apa? Apa yang harus saya lakukan? Apa rencana Tuhan untuk saya? Kapan waktunya jalan saya indah?”.  Menurut saya itu manusiawi karena kita sebagai manusia juga ditanamkan sikap realistis. Yang menjadi pergumulan saya adalah kapankah kita harus berpikir secara rasional dan realistis? Dan kapan kita harus berpikir secara spiritual? Hal yang menjadi masalah adalah terkadang hal spiritualis tidak bisa dijadisatukan dengan hal yang rasional. Disatu sisi...