Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Aksara Rasa Syukur

Gambar
Karya ini terinspirasi dari kegiatan "One Month Socio Project" yang diselenggarakan oleh " Lentera Mimpi." Untuk detail aktivitas dapat dilihat pada blog lentera mimpi: www.lenteramimpiproject.blogspot.co.id "Art is about sharing passion each other" Aksara Rasa Syukur Potensi diri yang dulu dibungkam Kini telah bebas, menghirup udara segarnya Terima kasih atas seni dan kreativitas Yang telah membuka tawa mereka. Mengajarkan tentang berkarya Mengajarkan kami untuk membagikan Anugerah-Nya Mengizinkan mereka untuk mengenal diri mereka sendiri Replika haru tercipta Perspektif baru berkunjung dan menetap Simphoni yang menggetarkan jiwa Tawa mereka adalah apresiasi bagi kami Terima kasih semesta Telah memberikan kesempatan Untuk kami Melaksanakan sabdamu (Isella Siregar, Oktober 2016)

Berfokus pada Cahaya

Berfokus pada Cahaya Rasa ingin tau membuatku ingin memasuki satu lorong Intuisi mengatakan terdapat cahaya yang berkilau diakhirnya Jauh lebih berkilau dari yang lainnya “JANGAN!“, kata mereka Tetapi intuisiku seakan menguasai sel darahku Indera pendengaranku seakan ditulikan Suara mayoritas diredam Lalu Intuisi mendestruksi logika dan menjeratku ke lorong itu Entah terjebak ataukah  semesta yang membawaku ke titik ini Terowongannya sangat panjang, gelap, dingin Bermil-mil berjalan namun tak ada setitik cahaya Tersesat, gelap dan mencekam Ku pikir aku tak akan pernah keluar Tapi semesta memberikan senyumannya Lalu ku teruskan perjalanan Tak lama kilau cahaya kecil, memancarkan pesonanya kepadaku Indah, damai dan menawan Sedikit lagi... Sedikit lagi sampai Kilauan itupun menyadarkanku  Karena selama ini aku hanya terfokus pada kegelapan Bukan berfokus pada cahaya. Isella Siregar, September (2...

Destruksi

Destruksi Terkapar dilintasan waktu dan tersesat di entah berantah Menampilkan cerah yang tak sejati Meredam dan tenggelam Rahasia yang terkubur pada lapisan inti bumi Membiru dan terbelenggu Hiruk-pikuknya polusi kata Resah, mencengkram, tanpa solusi “seperti mereka”, katanya Seakan homo sapien adalah makluk pabrikan Menyamaratakan segala sesuatu yang jelas berbeda Perpektif dijadikan satu arah Mimpi dan harapan yang dibungkam oleh rasionalitas semu Hutan belantara kehidupan Memaksa manusia untuk menggunakan sistem auto pilot Berjalan secara otomatis Tanpa hasrat, tanpa rasa, tanpa resiko Karena citra publik lebih berharga Dari mengenal diri sendiri 24 Agustus 2016 Isella Siregar

Kolaborasi antara Misteri Kehidupan dan Misteri ilahi

Tekanan dalam hidup memaksa kita mengambil keputusan berupa solusi untuk keluar dari masalah. Tapi bagaimana bila masalah tersebut berada dalam lingkup eksternal yang terkadang kita sendiri tidak bisa mengendalikannnya? Terkadang kita hanya bisa berserah atau mengambil kontrol dari diri kita sendiri. Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa “mungkin itu bukan jalan anda, atau Tuhan sudah mengatur jalan anda, atau semua akan indah pada waktunya”. Tapi secara logika kita pasti akan bertanya-tanya, “kalau begitu jalan saya seperti apa? Apa yang harus saya lakukan? Apa rencana Tuhan untuk saya? Kapan waktunya jalan saya indah?”.  Menurut saya itu manusiawi karena kita sebagai manusia juga ditanamkan sikap realistis. Yang menjadi pergumulan saya adalah kapankah kita harus berpikir secara rasional dan realistis? Dan kapan kita harus berpikir secara spiritual? Hal yang menjadi masalah adalah terkadang hal spiritualis tidak bisa dijadisatukan dengan hal yang rasional. Disatu sisi...

Mimpi dan Rasa Takut

Gambar
Idealisme yang dipaksa meluntur oleh realitas duniawi Awalnya aku sangat yakin akan hal itu Tapi asam garam dunia, dan opini suara mayoritas menggerusnya perlahan Lalu sekejap mimpi berubah menjadi bayangan Semakin lama semakin semu Mereka hadir, menghantui dan mengkristal dalam imajiku Lalu semesta tertawa Menertawakan nuraniku yang takut sebelum berperang Bagai pecundang yang takut akan ambang batas Ketakutan akan bayang-bayang semu. Dan nurani membongkar kembali sebuah galian Galian akan harapan, mimpi, dan cita-cita Yang telah dikubur sebelum ia meninggal Isella Siregar, July 2016  

Kopi dan Miniatur Kehidupan

Gambar
Kopi. Buat mereka mungkin sekedar minuman. Tapi buat saya, kopi merupakan turning point perspektif saya. Saya memang belum mendapatkan prestasi apa-apa dalam dunia perkopian. Saya hanya penikmat rasa dan filosofi dari kopi itu sendiri. Benda ini merubah perspektif saya tentang kehidupan. “Kopi itu seperti kehidupan.” Tidak sesederhana apa yang dilihat. Makin dalam anda menjelajahinya, kopi makin memancarkan pesonanya. Bagi saya kopi itu seperti makhluk hidup.  Mengapa saya mengatakan demikian? Karena proses dari hulu ke hilir mempengaruhi rasa kopi itu sendiri. Proses dari petani kopi, roaster, dan barista. Proses penanaman dari ketinggian, tektur,lingkungan tanah, perawatan, cara panen, dll mempengaruhi kopi tersebut. Proses pemanggangan atau roasting yang mempertimbangkan temperatur ruangan, menit hingga setiap detiknya, suhu pemanggangan, kualitas biji kopi dari petani kopi, dll. Proses pembuatan kopi oleh tangan barista yang melibatkan keahlian penggunaan mesin, kuali...

Antalogi Bom Waktu

This's my second song. This song is dedicated for my friends who already give me many impressive memories in my life. Thanks for participating in my journey. See you on top my friends, thanks for the memories :) https://soundcloud.com/isella-margaretha/antalogi-bom-waktu Ilustrasi Bom Waktu: Kehidupan kita merupakan bom waktu, Hari demi hari, detik demi detik terus berjalan hingga saat waktunya habis, pertanda kita harus mengganti dengan cerita kehidupan yg baru dan memasang detiknya kembali ke awal. Hadirmu dikala dunia membisu Kebahagiaan tanpa sandiwara Menggila di semesta yang lugu Gemercik waktu menghempas Siapa kuasa? Reff: Dan bom waktu hari itu, memuntahkan semua Dan bom waktu hari itu, memuntahkan cerita Antara kita dan bahagia Oh....taradata.. Dan perjalanan yang indah

Sang Rahasia

Siksaan tanda tanya tanpa jawab Kata yang ditelan oleh sunyi Firasat yang dipaksa untuk bungkam Kegelisahan akan entitas kata yang memuai Perseteruan nurani yang berspekulasi Destruksi rasionalitas pikiran Mencoba berontak dari cabikan lintasan waktu Dahaga jiwa akan adanya jawaban Dan jawaban itu akan bertekuk lutut Dihadapan sang rahasia. Isella Siregar, Juni 2016